Jadilah Penopang, Bukan Penumpang Organisasi
Ada perbedaan besar antara orang yang hadir di dalam organisasi dengan orang yang hidup untuk organisasi.
Seorang penumpang akan selalu bertanya, “Apa yang bisa organisasi berikan kepada saya?” Sementara seorang penopang justru bertanya, “Apa yang bisa saya berikan agar organisasi ini tetap berjalan?”
Perbedaan itu baru benar-benar terlihat ketika organisasi sebagai kendaraan yang kita tumpangi mengalami masalah.
Ketika kendaraan melaju kencang, jalan mulus, bahan bakar cukup, dan semuanya terasa nyaman, tentu banyak orang ingin duduk di dalamnya. Tetapi ketika kendaraan itu mogok, mesinnya bermasalah, rodanya kempes, atau jalannya menanjak dan berat, saat itulah karakter seorang penumpang dan penopang terlihat.
Penumpang akan turun. Penopang akan turun tangan.
Penumpang berkata, “Kendaraan ini sudah tidak nyaman. Saya cari kendaraan lain.”
Penopang berkata, “Apa yang bisa saya lakukan agar kendaraan ini kembali berjalan?”
Ia ikut mendorong ketika kendaraan mogok. Ia mencari bahan bakar ketika tangki kosong. Ia membantu memperbaiki ketika mesin bermasalah. Ia memberikan tenaga ketika kendaraan sedang melewati jalan yang berat.
Begitulah seharusnya mental seorang pegiat organisasi atau aktivis. organisasi apapun!
Bukan berarti kita harus membenarkan semua kesalahan organisasi. Bukan pula berarti loyalitas harus membuat kita kehilangan akal sehat dan keberanian untuk mengkritik. Justru seorang penopang yang sejati berani mengingatkan ketika ada yang salah, berani memperbaiki ketika ada yang rusak, dan tetap memilih untuk berkontribusi ketika keadaan sedang tidak ideal.
“Right or wrong, it's my country.”
Semangat itu, dalam konteks organisasi, dapat diterjemahkan menjadi: “Ini organisasi saya. Kalau ada yang salah, saya ikut memperbaiki. Kalau ada yang lemah, saya ikut menguatkan. Kalau sedang jatuh, saya tidak buru-buru meninggalkannya.”
Sebab mudah sekali mencintai sesuatu ketika ia sedang berada di puncak.
Yang sulit adalah tetap peduli ketika ia sedang berada di titik terendah.
Organisasi Bukan Kendaraan untuk Mencari Tumpangan.
Organisasi seharusnya bukan tempat seseorang sekadar mencari posisi, jabatan, jaringan, fasilitas, popularitas, atau keuntungan pribadi.
Organisasi bukan kendaraan yang kita tumpangi hanya selama ia membawa kita menuju kepentingan pribadi.
Jika suatu hari kendaraan itu berhenti, jangan langsung melompat turun hanya karena kita tidak lagi mendapatkan kenyamanan.
Tanyakan kepada diri sendiri:
“Selama ini, apakah saya ikut menghidupkan kendaraan ini, atau hanya ikut mencari hidup?”
Sebab organisasi yang besar bukan dibangun oleh orang-orang yang hanya datang ketika keadaan baik. Organisasi dibangun oleh mereka yang bersedia hadir ketika keadaan sulit.
Mereka yang tetap bekerja ketika tidak dipuji.
Tetap membantu ketika tidak diberi jabatan.
Tetap memberikan gagasan ketika tidak diminta.
Tetap menjaga ketika yang lain mulai meninggalkan.
Dan tetap percaya bahwa sesuatu yang sedang rusak bukan selalu sesuatu yang harus ditinggalkan—terkadang ia adalah sesuatu yang harus diperbaiki bersama.
Hidupilah Organisasi, Jangan Mencari Hidup di Organisasi
Ada satu prinsip yang sederhana tetapi sangat penting:
Jangan hanya bertanya apa yang organisasi berikan kepada kita. Bertanyalah apa yang telah kita berikan kepada organisasi.
Kalau semua orang datang untuk mengambil, siapa yang akan memberi?
Kalau semua orang ingin mendapatkan manfaat, siapa yang bersedia menjadi sumber manfaat?
Kalau semua orang menunggu organisasi menjadi besar terlebih dahulu baru mau berkontribusi, lalu siapa yang akan membesarkannya?
Organisasi akan hidup karena orang-orang di dalamnya memilih untuk menghidupkan.
Bukan karena nama besarnya.
Bukan karena gedungnya.
Bukan karena jabatan yang tersedia.
Bukan karena fasilitas yang diberikan.
Tetapi karena ada orang-orang yang rela menyumbangkan pikiran, tenaga, waktu, jaringan, pengalaman, bahkan kadang harus mengorbankan kepentingan pribadinya demi sesuatu yang lebih besar.
Jika Organisasi Adalah Ladang
Bayangkan organisasi sebagai sebuah ladang.
Ada masa ketika ladang itu subur. Tanahnya hijau, tanaman tumbuh, hasilnya melimpah. Pada masa seperti itu, banyak orang ingin datang dan menikmati hasilnya.
Tetapi ada pula masa ketika ladang mengering.
Tanahnya retak.
Tanamannya layu.
Gulma mulai tumbuh.
Hama datang.
Hasil panen menurun.
Lalu apa yang dilakukan seorang petani?
Apakah ia meninggalkan ladang itu dan mencari ladang baru yang lebih subur?
Atau ia mengambil air, menyirami tanahnya, membersihkan gulma, membasmi hama, memperbaiki saluran air, menanam kembali, lalu menunggu dengan sabar sampai ladang itu kembali menghasilkan?
Seorang penopang akan memilih yang kedua.
Sebab ia memahami bahwa kesuburan tidak selalu datang dengan sendirinya. Kesuburan harus diusahakan.
Begitu pula organisasi.
Ketika organisasi mulai gersang, jangan buru-buru mencari organisasi lain yang lebih hijau.
Sirami.
Rawat.
Bersihkan.
Perbaiki.
Berikan ide.
Berikan tenaga.
Bangun kembali kepercayaan.
Ajak orang-orang yang mulai menjauh untuk kembali.
Jika ada budaya yang tidak sehat, perbaiki.
Jika ada kepemimpinan yang lemah, berikan masukan.
Jika ada konflik, bantu mencari jalan keluar.
Jika ada generasi yang mulai kehilangan semangat, jadilah orang yang menyalakan kembali api itu.
Jangan hanya mencari ladang yang subur. Jadilah orang yang membuat ladang menjadi subur.
Karena Organisasi Adalah Rumah Bersama
Setiap organisasi pasti memiliki masa jaya dan masa sulit.
Ada masa ketika kita bangga menyebut namanya. Ada pula masa ketika kita kecewa melihat keadaannya.
Namun justru pada masa sulit itulah loyalitas dan karakter diuji.
Meninggalkan organisasi karena tidak lagi menguntungkan mungkin mudah.
Pindah ke tempat yang lebih nyaman mungkin juga mudah.
Tetapi memilih untuk bertahan, mengoreksi, membangun, dan menghidupkan kembali sesuatu yang sedang melemah membutuhkan kedewasaan.
Penopang tidak selalu menjadi orang yang paling terlihat.
Kadang ia berada di belakang layar.
Ia tidak banyak bicara, tetapi banyak bekerja, bukan NATO Not Action Talk Only
Tidak sibuk menanyakan, “Apa yang saya dapat?”
Melainkan terus bertanya:
“Apa yang masih bisa saya lakukan?”
Dan mungkin, inilah mentalitas yang semakin kita butuhkan dalam setiap organisasi—apa pun bentuknya, apa pun bidangnya, dan di mana pun kita berada.
Jangan menjadi orang yang hanya hadir ketika organisasi sedang berjaya.
Jangan menjadi orang yang hanya muncul ketika ada jabatan.
Jangan menjadi orang yang hanya dekat ketika ada kepentingan.
Jangan menjadi penumpang yang menikmati perjalanan, lalu turun ketika kendaraan mengalami kerusakan.
Jadilah penopang.
Ketika kendaraan berjalan, ikut mengarahkannya.
Ketika kendaraan kehabisan bahan bakar, bantu mengisinya.
Ketika kendaraan macet, ikut mendorongnya.
Ketika kendaraan rusak, ikut memperbaikinya.
Dan ketika perjalanan terasa berat, jangan buru-buru mencari kendaraan lain.
Karena organisasi yang kita cintai tidak akan menjadi kuat hanya karena kita menemukan tempat yang lebih nyaman.
Ia akan menjadi kuat karena ada orang-orang yang memilih untuk tetap tinggal, tetap peduli, dan tetap bekerja untuk membuatnya lebih baik.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah:
“Apa yang organisasi berikan kepada saya?”
Tetapi:
“Ketika saya berada di dalam organisasi ini, apakah keberadaan saya membuat organisasi menjadi lebih kuat atau justru semakin berat?”
Maka, kepada siapa pun yang sedang menjadi pegiat organisasi:
Jadilah penopang, bukan penumpang.
Hiduplah organisasi, jangan mencari hidup di organisasi.
Rawatlah ladang yang menjadi tempat kita bertumbuh.
Jangan tinggalkan ladang hanya karena sedang kering.
Sebab penumpang mencari kendaraan yang nyaman.
Tetapi penopang membuat kendaraannya tetap berjalan.
Dan organisasi yang besar bukan hanya membutuhkan orang-orang yang pandai menikmati hasil panen.
Contohlag organisasi besar di Indonesia seperti Muhammadiyah dan NU, keduanya tidak akan besar seandainya KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari bermental penumpang, sebaliknya mereka bermental penopang organisasi sehingga wujud organisasi besar itu.
Keduanya tidak dibangun dalam satu malam, tapi bertahun-tahun dengan beragam ujian dan cobaan menerpa, tapi lagi-lagi organisasi tergantung manusia di dalamnya, pengurus atau panitianya, hanya sebagai penumpang atau benar benar-benar sebagai PENOPANG !
Ia membutuhkan orang-orang yang mau turun ke ladang, membawa air, membersihkan gulma, merawat tanaman, dan menanam kembali—bahkan ketika belum ada yang menjanjikan panen.

Komentar
Posting Komentar