Jika Terjadi Kecelakaan Radioaktif di Jalan Raya, Begini Simulasi Penanganannya




Kata pepatah, lebih baik mencegah daripada mengobati, tetapi jika seandainya sudah terjadi bagaimana kita menanganinya? Begitu pun dengan Kecelakaan. Ia bisa saja terjadi dimana saja, kapan saja, dan menyasar siapa saja, meskipun kita telah menghindarinya sedemikian rupa. Itulah yang disebut takdir. Yang jadi persoalan setelah seluruh SOP sudah dilakukan untuk menghindari kecelakaan tapi masih terjadi juga maka diperlukan simulasi penanganan. Salah satu Tujuannya adalah meminimalisir korban jiwa. Kita ambil salah satu contoh kecelakaan berbahaya, yaitu kecelakaan transportasi yang didalamnya terdapat bahan radioaktif (limbah beracun), siapa yang bertanggung jawab dan bagaimana menanganinya? Simak cerita saya....

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Kamis 6 Desember 2018, melalui group whatsapp “Netizen bapeten” saya bersama teman-teman 4 kawan blogger mendapat undangan dari pihak Bapeten, untuk meliput kegiatan simulasi (Geladi Lapang) Penanggulangan Kedaruratan Nuklir/Radiologi  di Kawasan Puspitpek, Serpong Tangerang.
Agar  tidak kehilangan momentum, Saya berangkat subuh hari dari rumah saya di Jakarta Timur, jarak dari Jakarta ke Serpong paling tidak sekitar 50 kilometer kurang lebih. Ini momen langka pikir saya karena itu harus tepat waktu tiba di lokasi. Menurut pemberitahuan dari Pak Bambang pegawai Bapeten, kami harus tiba di lokasi paling lambat pukul 7.30 pagi. Singkat cerita, setelah berjam-jam menempuh perjalanan dari kendaraan satu ke kendaraan lainnya, tiba lah saya di Stasiun Rawa Buntu pukul 7 .00 pagi, masih ada waktu untuk ngopi dan sarapan sembari menunggu teman-teman blogger lainnya. Tidak lama kemudian saru persatu teman berdatangan dengan wajah-wajah segar mungkin karena masih pagi ya...hehehe...salah satu teman pun memesan taxi Online untuk menuju lokasi.
Jarak dari Stasiun Rawa Buntu ke Kawasan Puspiptek sih tidak terlalu jauh paling sekitar 5 Km, tapi kenapa lama sampai kesana ini gara-gara kemacetan. Sebelum memasuki kawasan Puspitek Serpong, mobil kami sempat dicegat oleh petugas keamanan yang ada di gerbang masuk, petugas menanyakan maksud kedatangan kami kesana, setelah memberitahu maksud kedatangan kami, pertugas pun memberi ijin dengan terlebih dahulu menyuruh meninggalkan kartu identitas salah satu dari kami.
Kami memasuki kawasan Puspitek dan tiba di lokasi yang telah ditentukan, di sana sudah ada Bapak Bambang dari Bapeten menyambut kami lalu mengajak kami jalan kaki ke lokasi acara tidak jauh dari Gedung DRN Puspitek. Di sana sudah ada bapak Abdul Qohhar selaku Humas Bapeten ditemani beberapa pegawai Bapeten lainnya.
Setelah semua peserta seperti dari Bapeten, Batan, polisi dan TNI, Satpam dan pihak penanggungjawab kawasan Puspitek hadir di lapangan segera apel persiapan pun dimulai dipimpin langsung oleh Bapak Dedi Eko Sumarno dari Bapeten. Setelah itu, apel berlanjut ke acara utama, yaitu simulasi. Semua petugas menuju pos masing-masing dan bersiap melakukan tugas dan tanggungjawabnya. Ada yang bertugas sebagai Tim Penanggulangan dan Proteksi Radiasi (PPR) dengan seragam dan perlengkapan khususnya, ada yang bertindak sebagai pemantau, petugas keamanan, pengemudi, dan peran lainnya. Semua peserta sedang menjalankan skenario yang telah ditetapkan sebelumnya.




Skenario kejadiannya seperti ini, satu mobil pengangkut bahan radioaktif  hendak mengantar bahan radioaktif menuju kawasan BATAN melewati ruas jalan di Kawasan Puspitek. Di tengah perjalanan,kendaraan tersebut mengalami kecelakaan dengan kendaraan lainnya. Terjadi ledakan, dan kebocoran dimana-mana. Sang sopir yang mengendarai mobil tersebut mengalami luka serius. Kawasan disekitar kecelakaan dipenuhi limbah zat radioaktif berbahaya yang berpotensi  yang Jika tidak segera diatasi maka akan membahayakan jiwa warga sekitar. Petugas keamanan yang mengetahui kejadian segera melapor ke petugas keamanan kawasan kemudian diteruskan kepada pihak BATAN yang berkompeten menangani zat radioaktif. Selain BATAN, Pihak keamanan juga berkoordinasi tim Damkar,kepolisian setempat dan tim khusus milik direktorat Zeni TNI AD, yaitu Tim Kizinubika. Tim Damkar yang pertama kali datang ke lokasi kejadian segera memadamkan api, dan menyelamatkan sopir yang mengalami luka serius. Tim selanjutnya datang yakni Tim Penanggulan dan Proteksi radiasi (PPR) dari BATAN yang bertugs menemukan bahan radioaktif lalu mengangkatnya ke tempat aman. Tim PPR lainnya memberikan pertolongan pertama kepada korban dan juga mengecek para petugas lapangan yang kemungkinan terpapar zat berbahaya.




Tim ketiga datang, Tim Kizinubika dari Direktorat Zeni TNI AD yang memiliki keahlian khusus menangani kedaruratan Bahan radioaktif. Mereka bertugas mensterilkan  area kecelakaan. Para petugas yang terpapar disemprot cairan khsusus agar steril dari bahan berbahaya. Setelah semua tertangani dengan baik,  simulasi pagi itu pun berakhir ditandai dan dilanjutkan dengan sesi evaluasi.
***
Abdul Qohhar Humas Bapeten

Simulasi (Geladi lapangan) ini adalah hasil kerjasama antara Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nasional (BAPETEN) dengan Puspiptek, BATAN, Kepolisian RI, dan TNI AD.  Simulasi ini merupakan amanah yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2015 tentang Keselamatan Radiasi dan Pengangkutan Zat Radioaktif. Pasal 69 ayat (3) mewajibkan diadakannya pelatihan dan geladi kedaruratan paling sedikit1(satu) kali dalam 4 (empat) tahun. Khusus hari ini terkait penanggulangan kecelakaan bidang transportasi. 
Kepala Humas Bapeten,Abdul Qohar disela kegiatan mengatakan, Geladi Lapang ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan personil dalam menanggulangi kecelakaan, menyempurnakan prosedur, menguji coba peralatan dan meningkatkan sarana dan prasarana pendukung; menilai, memberikan umpan balik, dan perbaikan yang mendasar terhadap sistem yang tersedia saat ini, khususnya di Kawasan Puspiptek; serta mengevaluasi koordinasi dan kerjasama dengan satuan/unit terkait, seperti BATAN, BAPETEN, Kompi Nubika TNI AD, maupun unsur-unsur perespon lainnya.
"Diharapkan geladi lapang penanggulangan kedaruratan nuklir/radiologi akibat kecelakaan transportasi yang melibatkan sumber radioaktif ini menjadi momentum penting untuk mewujudkan strategi nasional I-CoNSEP (Indonesia Center of Excellence on Nuclear Security and Emergency Preparedness) dalam kerangka mewujudkan Nawa Cita butir I: “Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara,"tutur Abdul. 
Insiden atau kecelakaan dapat terjadi dimana saja dan kapan saja, demikian juga halnya dengan kecelakaan nuklir/ radiologi, kecelakaan tersebut dapat terjadi baik difasilitas nuklir/radiologi maupun di tempat umum, di darat, air atau udara. Penanggulangan kedaruratan nuklir membutuhkan keandalan tanggap darurat yang tepat dan cepat, untuk mencegah eskalasi dan meminimalkan dampak yang merugikan. Keandalan kemampuan tanggap darurat nuklir/radiologi dibangun dan disiapkan melalui implementasi Program Kesiapsiagaan Nuklir.
M. Cecep kepala sub bidang pemantauan Lingkungan dan kedaruratan BATAN

Sementara itu, M Cecep Kepala Sub Bidang Pemantauan Lingkungan dan Kedaruratan BATAN mengatakan, di BATAN ada armada khusus untuk mengangkut bahan radioaktif baik cair maupun padat yang didesain aman. Ada tiga jenis kendaraan yang sudah dilapisi pb (timbal) untuk menahan radiasi gamma, dengan pb itu maka radiasi ke masyarakat akan aman.
Kendaraan khusus ini untuk mengangkut limbah cair dan padat dengan desain khusus yang dipastikan aman. Intinya, semua kendaraan yang akan mengangkut bahan limbah berbahaya harus seizin dari pihak Bapeten untuk meminimalisasi paparan radiasi jika sewaktu-waktu terjadi kecelakaan di jalan raya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Artikel, Opini, Feature dan Esai

Film “Waalaikumussalam Paris” (bukan) Jawaban Assalamu alaikum Beijing